01
Jun
10

MENGINTIP RODA KEUANGAN ‘PENGHUNI YONG MA’

MENGINTIP RODA KEUANGAN ‘PENGHUNI YONG MA’

Jer basuki mawa bea: semua usaha butuh biaya. HMJ, BO dan BSO di Fakultas yang Anda diami ini akan kering kerontang tanpa uang. Dengan dana matriks Fakultas yang tergolong rendah, bagaimana mereka bertahan?

Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ), Badan Otonom (BO) dan Badan Semi Otonom (BSO) di tiap Fakultas adalah wadah utama bagi mahasiswa untuk bergerak dan berkembang di dalam kampus. Setiap wadah memiliki cara tersendiri untuk mengekspresikan diri, lumrahnya melalui kegiatan-kegiatan baik akademik maupun non-akademik. Sudah menjadi rumus umum bahwa dalam setiap pelaksanaan, dana mutlak harus tersedia. Meski tahun lalu terjadi kenaikan dana matrikulasi dari pihak dekanat kepada HMJ, BO dan BSO menjadi Rp. 5.000.000,00 per tahun, tetap saja angka ini tidak mampu menutupi anggaran tahunan yang jauh lebih besar.

Saat ditemui di Mushola Fisipol, bendahara Jama’ah Muslim Fisipol (JMF), Defirentia One mengatakan bahwa dana matriks yang kini mereka terima sangatlah penting bagi keberlangsungan kegiatan, namun hanya sebagai pegangan awal. “Dana matriks dari fakultas kami gunakan sebagai modal awal saja, karena setiap event yang kami adakan selalu membutuhkan biaya yang besar, misalnya untuk Idul Adha, dana yang kami butuhkan mencapai Rp 10.000.000,-“ ungkap One.

Sedikit berbeda, Larissa Absarina, bendahara Keluarga Mahasiswa Administrasi Negara (KMAN) mengungkapkan bahwa dana matriks dari fakultas sudah mencukupi untuk kehidupan HMJ mereka. “Dana matriks menunjang sampai 80% kegiatan yang diadakan oleh KMAN,” ujar Rissa. Di KMAN kegiatan yang diadakan disesuaikan dengan dana yang tersedia. “Karena lingkup kami sempit, hanya jurusan Administrasi Negara maka dana yang kami butuhkan tidak terlalu besar, mungkin saat upgrading saja terjadi kekurangan. Tapi biasanya segera ditutup dengan dana dari sponsor” tambahnya.

Meski demikian, bagi beberapa organisasi kemahasiswaan di Fisipol termasuk JMF, kegiatan-kegiatan yang direalisasikan tidak tergantung pada seberapa besar jumlah dana yang tersedia, namun seberapa penting sebuah kegiatan untuk dilaksanakan. “ Di Komap (Korps Mahasiswa Pemerintahan, red) biasanya terdapat kegiatan tahunan yang selalu diadakan berkala seperti sebuah tradisi, misalnya JIP CUP, Artspiration dan beberapa seminar ataupun workshop yang sangat penting. Bagaimanapun kondisinya, kami punya tanggung jawab untuk mengupayakan kegiatan-kegiatan tersebut tetap berlangsung,” ungkap Ipeh, bendahara Komap 2009. Di saat-saat seperti inilah pegiat-pegiat organisasi intra kampus bergerilya mencari dana tambahan di luar kampus. Sasaran dari HMJ, BO dan BSO ini adalah perusahaan-perusahaan swasta yang ditawarkan untuk membantu sebagai sponsor.

Biasanya kami mengajukan proposal permohonan bantuan dana kepada instansi-instansi swasta yang banyak sekali terdapat di Yogyakarta, namun seringkali Pemerintah Provinsi juga menjadi target untuk menambah pemasukan, meski dalam jumlah yang tidak terlalu banyak” ungkap Riezky, ketua pelaksana kompetisi tahunan JIP CUP.

Harus Pandai Mengelola

Besarnya kebutuhan dana untuk berbagai kegiatan di organisasi menuntut bendahara harus pandai dalam memilah-milah keperluan dan mengatur anggaran agar tidak terjadi defisit yang besar. Kemampuan mengelola anggaran dibutuhkan terlebih bagi organisasi-organisasi yang aktif melakukan berbagai kegiatan berskala besar. “Meski terbatas, setidaknya dana tersebut bisa kami pergunakan untuk menyusun proposal guna mencari sponsor agar kegiatan kami tetap berjalan” imbuh One.

Hal senada juga diungkapkan oleh Ganes Nirwina PS, bendahara Komahi ketika ditemui di sela-sela diskusi di WB beberapa waktu lalu. Dia mengatakan bahwa di Komahi sendiri dana matriks bisa cukup membantu dengan berbagai pengaturan. “Dana matriks, entah dari jurusan maupun fakultas, serta dana lain dari sponsor maupun donatur biasanya saya jadikan satu, kemudian saya bentuk pos anggaran dan selanjutnya saya bagikan ke bendahara masing-masing kegiatan,” jelasnya.

Bendahara itu harus pelit. Kalau tidak, bisa-bisa dana yang dikumpulkan susah payah akan habis sia-sia” tegas Ipeh sambil tertawa.

Mahasiswa Tidak Dilibatkan

Sebenarnya sejak tahun lalu pihak dekanat berusaha memfasilitasi kekurangan dana untuk kegiatan-kegiatan besar yang membutuhkan biaya lebih banyak asal organisasi yang membutuhkan mengajukan surat permohonan ataupun proposal. Hal ini dirasa sangat membantu saat kebutuhan membengkak sedangkan kegiatan tetap harus berjalan. Meski demikian, sebagai Fakultas dengan jumlah mahasiswa terbesar ketiga di Universitas Gadjah Mada dan dengan organisasi-organisasi intra kampus yang ‘hiperaktif’, solusi ini menjadi sekedar setetes air penghilang dahaga. Artinya rasa haus akan kucuran dana tidak akan berhenti. Tahun lalu, Arie Sudjito dalam pertemuan dengan perwakilan HMJ, BO dan BSO Fisipol periode 2009 mengungkapkan untuk acara insidental yang sangat penting di luar program kerja, kekurangan dana dapat diajukan melalui wakil dekan bidang kemahasiswaan dan keuangan. Namun untuk acara rutin atau yang sudah ada dalam program kerja organisasi tidak bisa ditutupi oleh Fakultas. “Sayangnya sejak tahun ini mekanisme itu menjadi lebih sulit, terlebih saat ini pencairan dana matriks dilakukan perkegiatan, bukan per bulan.,” keluh Ipeh.

Organisasi mahasiswa intra Fisipol sepertinya memang terlihat tidak pernah puas. Namun berkaca dari Fakultas tetangga, seperti Fakultas Ekonomika dan Bisnis yang mencapai Rp. 10.000.000,00 per tahun atau Fakultas Pertanian dengan angka Rp. 9.000.000,00-11.000.000,00 per tahun, rasa tidak puas tersebut menjadi wajar. “Dana untuk kami (organisasi intra Fakultas Pertanian, red) tahun ini sama seperti sebelumnya, disesuaikan dengan jumlah mahasiswa dan keaktifan organisasi. Untuk Jurusan dengan mahasiswa sedikit, dana yang disediakan Rp. 9.000.000,00, yang sedang Rp. 10.000.000,00 dan yang berjumlah besar Rp. 11.000.000,00. Dana ini dikurangi masing-masing Rp. 1.000.000,00 karena produktifitas beberapa organisasi sangat rendah tahun lalu,” terang Bravy Yudha Rakhmautama, Dirjen Kesejahteraan Mahasiswa, Dewan Mahasiswa Pertanian 2010.

Meski tidak bisa dibandingkan dengan FEB ataupun Fakultas Pertanian, kenaikan dana matrikulasi awal tahun ini setidaknya sangat membantu realisasi kegiatan yang bermanfaat bagi mahasiswa. Sayangnya penentuan besarnya dana matriks ini masih bersifat satu arah, karena tidak melibatkan komunikasi dengan HMJ, BO dan BSO mengenai kebutuhan dan masukan-masukan level praksis sebelum penetapannya. “Mereka (bendahara dan pengurus HMJ, BO dan BSO, red) hanya diberikan pengumuman tentang tata cara pengambilan dana matriks dan kewajiban menyiapkan laporan pertanggungjawaban keuangan.” Ujar Ipeh (Ike, Sari)

Advertisements

0 Responses to “MENGINTIP RODA KEUANGAN ‘PENGHUNI YONG MA’”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Rubrik

Kalender

June 2010
M T W T F S S
« May    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

Kunjungan Anda

  • 10,709 klik

Temui kami di:

Gedung Yong Ma lantai 2, Jalan Socio-Justicia 1, Bulaksumur, Yogyakarta. Email: sintesapress@yahoo.com Facebook/ Group: Persma Sintesa/ Sintesa Press

%d bloggers like this: