01
Jun
10

SALAH SASARAN, SALAH SIAPA?

SALAH SASARAN, SALAH SIAPA?

Siapapun pasti gembira dijatuhi rezeki. Terlebih jika datangnya tak disangka-sangka. Bak mendapat durian runtuh, nasib ini tengah menaungi Afif Akhda Luqmana, mahasiswa Ilmu Politik dan Pemerintahan 2007 yang akrab dipanggil Afif. “ Saya benar-benar tidak menyangka akan mendapatkan beasiswa BCA,” ungkapnya dengan senyum getir saat ditemui Indikator di sela-sela kesibukannya. Ia telah berulang kali menjajal kemampuan dan keberuntungan dalam seleksi-seleksi beasiswa yang diadakan oleh universitas, namun berulang kali pula gagal.

Beberapa waktu yang lalu, ia mendapatkan telepon dari pihak rektorat yang “mengundangnya” untuk mengikuti seleksi beasiswa Bakti BCA yang notabene mengucurkan dana pertahun dalam jumlah sangat besar untuk 10 mahasiswa UGM. Memang mengejutkan, namun tentu saja Afif menerima tawaran ini. Proses seleksi pun ia jalani mulai dari mengisi formulir dan melengkapi berkas-berkas yang diperlukan, sampai akhirnya ia dan teman sekelasnya Ponco Kusumawardani, lolos dalam seleksi ini. Sedikit pertanyaan yang muncul kemudian di benak Afif dan segelintir mahasiswa lain adalah, mengapa hanya dua-tiga orang yang mendapatkan undangan? Apa yang membuat rektorat memilih dua-tiga orang ini untuk mendapatkan kesempatan menerima beasiswa Bank ternama tersebut?

Beasiswa merupakan bantuan, baik berupa sejumlah uang atau kesempatan pendidikan yang diberikan kepada seseorang guna menunjang kegiatan pembelajarannya. Sasaran beasiswa biasanya adalah peningkatkan prestasi dan kemampuan akademik maupun non-akademik. Bantuan yang bisa diberikan oleh individu atau institusi tersebut tentunya mempunyai patokan dan syarat-syarat tertentu. Syarat lazimnya adalah nilai akademik yang baik, prestasi-prestasi di dalam maupun di luar kegiatan perkuliahan, dan yang paling sering adalah kondisi ekonomi calon penerima beasiswa yang digolongkan dalam kategori kurang atau tidak mampu. Hal ini dibuktikan dengan surat keterangan tidak mampu atau tanda bukti penghasilan orang tua.

Universitas Gadjah Mada sebagai salah satu kampus terkemuka di Indonesia sudah tentu memiliki banyak jejaring yang menghubungkan instansi ataupun individu pemberi beasiswa dengan mahasiwa. Pihak rektorat maupun dekanat masing-masing Fakultas menyediakan dan memberikan berbagai informasi beasiswa untuk mahasiswa dari berbagai sumber. Menurut data pihak Dekanat Fisipol UGM, hingga tahun 2008 setidaknya tercatat 49 jenis beasiswa tersedia untuk mahasiswa. Termasuk di antaranya beasiswa tahunan seperti pembebasan biaya Bantuan Operasional Pendidikan (BOP), Peningkatan Prestasi Akademik (PPA), Bantuan Belajar Mahasiswa (BBM) dan beberapa beasiswa rutin ‘langganan’ UGM dari berbagai instansi di luar kampus. Kuota mahasiswa yang dapat menerima beasiswa rutin tersebut kurang lebih 5000 orang atau hanya 0,08 % dari jumlah mahasiswa S1 yang menempuh pendidikan di UGM. Mirisnya obrolan-obrolan langsung dengan pengaju beasiswa dan data penerima yang terpampang di papan pengumuman mengungkapkan banyaknya mahasiswa yang tergolong mampu, namun masih mendapatkan jatah dari angka yang hanya 0,08 % ini. Fakta ini seringkali mengundang beberapa mahasiswa bergumam, “Si A kan tajir, Bapaknya kerja di Pertamina kok,” atau “Si B punya Laptop ma HP bagus gitu, kok dapet BBM?”.

Mekanisme dan Prosedur Seleksi Amburadul

Seperti ketentuan dari Rektorat, info beasiswa disampaikan oleh Direktorat Kemahasiswaan kepada mahasiswa dengan berbagai cara. Menurut Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Akademik Fisipol UGM, Dr. Phil. Hermin Indah Wahyuni, M.Si, salah satu caranya adalah pihak Rektorat (Dirmawa UGM) memberikan surat pemberitahuan kepada dekanat Fakultas. “Surat pemberitahuan tersebut berisi nama beasiswa, syarat penerima beasiswa, batas penyerahan berkas, dan info penting lainnya. Dari dekanat, surat pemberitahuan tersebut diserahkan ke bagian Akademik fakultas tersebut masing-masing. Baru kemudian, bagian Akademik mengumumkannya kepada mahasiswa melalui situs Fakultas maupun papan pengumuman sudah tersedia.”

Pengumuman beasiswa di kampus Fisipol seringkali terlambat dipublikasikan kepada mahasiswa. Tidak seperti pengumuman beasiswa di website Dirmawa UGM yang lebih cepat tersebar, meskipun tidak selalu update. Fitur Beasiswa pada portal akademik tidak difungsikan dengan baik, informasinya selalu kosong dan tidak diisi dengan informasi beasiswa sebagaimana mestinya. Bahkan seringkali pengumuman beberapa jenis beasiswa tidak terpampang di sudut manapun di Fisipol. Wening Hapsari (JPP 2007) mengaku beberapa waktu yang lalu mengetahui informasi beasiswa sebuah Bank Swasta dari kampus tetangga. ”Saya mendapatkan informasi sebuah beasiswa dari FIB (Fakultas Ilmu Budaya, red). Tidak ada pengumumannya di Fisipol. Ketika Saya konfirmasikan ke akademik Fakultas, ternyata deadline-nya siang itu juga,” ujar Wening.

Sebagai fakultas yang tidak memiliki BEM atau Senat tingkat fakultas, Fisipol UGM memiliki proses seleksi yang berbeda dari fakultas lain. Pihak dekanat Fisipol khususnya bagian Akademik tidak menerapkan seleksi secara ketat. Berkas permohonan beasiswa yang masuk ke bagian akademik akan dicek kelengkapannya, lalu diteruskan ke Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan untuk ditandatangani. Sementara itu, bekerjasama dengan bagian Akademik, dekanat menyerahkan database mahasiswa lama dan baru kepada Dirmawa. Berkas permohonan beasiswa yang sudah ditandatangani dan database mahasiswa tersebut diserahkan ke pihak Dirmawa UGM. Proses seleksi sampai pengumuman diserahkan sepenuhnya kepada pihak Rektorat khususnya Dirmawa.

Dengan mekanisme seperti ini, keakuratan berkas permohonan dan keterangan lainnya tidak dapat dikroscek kebenarannya. Proses seleksi hanya berurusan dengan berkas-berkas dan meniadakan tahap wawancara atau penilaian langsung seperti yang dilakukan Fakultas lain, misalnya MIPA atau Teknik. ”Kita bikin pengajuan beasiswa, setelah itu ada tes wawancara dulu sama Keluarga Mahasiwa, habis itu tinggal nunggu pengumuman,” terang Alfons (Kimia 2006). Bagaimana dengan Fisipol? ”Kalau aku sih masukin surat penghasilan Bapak aja. Ibu sih kerja wiraswasta, tapi kalau dimasukin juga kan bisa-bisa nggak dapet beasiswanya,” aku salah seorang mahasiswa Fisipol penerima beasiswa yang tidak mau disebut namanya.

Problem Ketidakadilan

Jika mekanisme seleksi beasiswa hanya mengutamakan kelengkapan berkas, minim seleksi dan nihil data mahasiswa tidak mampu, terang saja beasiswa sangat rentan ‘salah sasaran’. Dampak selanjutnya yang timbul adalah kecemburuan dan perasaan diperlakukan tidak adil karena penerima beasiswa kebanyakan dari keluarga mampu. Menanggapi kasus beasiswa BCA, salah seorang mahasiswa mengeluhkan seleksi yang wagu ini, “Seharusnya ada transparansi, keadilan dan penjelasan kasus ini dari pihak rektorat,” ujar Hermawan (Sosiologi 2007).

Ketidakadilan dalam pembagian beasiswa secara langsung maupun tidak langsung menyebabkan persepsi negatif terhadap pihak Rektorat dan pihak Dekanat. Ketidakadilan tersebut sangat disayangkan oleh berbagai pihak termasuk perhimpunan Mahasiswa Advokasi se-UGM. Hal tersebut bisa dicegah dengan sistem pendataan mahasiswa yang baik. Namun sayangnya, pendataan mahasiswa mampu dan tidak mampu di Fakultas maupun Universitas terkesan lemah dan tidak relevan. “Universitas selama ini tidak pernah membuat list mahasiswa UGM yang tidak mampu secara keseluruhan,” Hal ini menyebabkan pada tahap seleksi tingkat Universitas, perbedaan mahasiswa mampu-dan tidak mampu menjadi kabur. Dalam beberapa kali pertemuan, para advokator dari berbagai Himpunan Mahasiswa Jurusan se-UGM juga menemukan fakta bahwa pencarian dana beasiswa BOP dan PPA dari Bank selalu terlambat. “Teman-teman advokasi se-UGM menengarai bahwa dananya dari Dikti (Direktorat Jenderal Perguruan Tinggi, red) ditaruh di bank dulu sehingga bunganya membesar lalu baru dicairkan,” ungkap Ridwan Budiman (Menteri Advokasi Komap 2009).

Mengenai ketidakadilan dalam pemberian beasiswa dan beasiswa yang salah sasaran, Hermin berpendapat, “Hal tersebut sangat disayangkan. Karena beasiswa itu sangat membantu mahasiswa, terutama jika diberikan kepada mahasiswa yang benar-benar membutuhkannya.” Beliau mengharapkan adanya kemauan untuk memperbaiki sistem serta munculnya peran aktif mahasiswa untuk berkonsultasi kepada pihak dekanat tentang permasalahan kuliah yang dihadapi termasuk hal finansial.

Sayang sekali, mempertanyakan siapa yang salah dalam ketidakadilan pembagian beasiswa sepertinya akan menimbulkan sikap saling menyalahkan dan lempar tanggung jawab. Meskipun jelas terjadi miskomunikasi antara Fakultas dan Universitas, serta carut mareutnya sistem seleksi dan tentu juga kesadaran moral mahasiswa pengaju beasiswa. “Seharusnya masalah ini dikawal terus. Jika ditemukan kejanggalan-kejanggalan lebih lanjut, mahasiswa advokasi se-UGM siap membantu sampai permsalahan ini tuntas,” ungkap Ridwan. (Sekar, Christian)

Advertisements

0 Responses to “SALAH SASARAN, SALAH SIAPA?”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Rubrik

Kalender

June 2010
M T W T F S S
« May    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

Kunjungan Anda

  • 10,608 klik

Temui kami di:

Gedung Yong Ma lantai 2, Jalan Socio-Justicia 1, Bulaksumur, Yogyakarta. Email: sintesapress@yahoo.com Facebook/ Group: Persma Sintesa/ Sintesa Press

%d bloggers like this: