Archive for the 'POJOK BUDAYA' Category

01
Jun
10

TAWURAN (SUDAH) KAMPUNGAN!

Ada secarik ironi di negara kita. Negara yang menjunjung keramahtamahan dan ke-timur-an. Di negara ini para pemuda pernah menggiring segenap generasi ke dalam panji kemerdekaan. Tapi di negara ini pula para pemudanya dengan mudah mengepalkan tangan dalam nafas kekerasan. Sehingga vandalisme “kelas berat” alias tawuran sudah akrab di telinga. Mungkin beberapa dari kita pernah melihat sebuah ruas jalan dipenuhi pelajar-pelajar beringas bersenjatakan batu, tongkat kayu hingga pisau untuk membentengi diri. Bahkan belum genap satu bulan yang lalu, seorang pelajar tewas akibat tawuran antar dua sekolah menengah atas di Yogyakarta yang memang merupakan musuh bebuyutan. Tragis. Seolah tidak berjiwa muda seseorang bila tidak melewati tradisi tawuran atau gontok-gontokan. Semacam ritual sepertinya.

Namun jika menelisik lebih lanjut serta mendalam, budaya vandalisme terjadi sejak era Presiden Sukarno dan mengalami puncak saat pergolakan di era Suharto. Sayang esensinya bergeser jauh. Awalnya para pemuda—sebut saja mahasiswa—melakukan kekerasan untuk menuntut-dengar dari pemerintah. Untuk zaman seperti itu, tentu kita bisa maklum. Terkadang cara-cara kekerasan memang diperlukan demi menghancurkan kemunkaran. Tetapi sungguh mendobrak nalar, bila mahasiswa Indonesia saat ini masih setia untuk tawuran. Entah itu tawuran antara mahasiswa dengan mahasiswa, mahasiswa dengan aparat pemerintah, bahkan mahasiswa dengan penduduk sipil. Apakah ada kesalahan dengan demokrasi yang sedang berjalan atau justru ada watak yang diwariskan dari masa ke masa?

Dua-duanya masuk akal. Coba kita intip Universitas Gadjah Mada yang merupakan perguruan tinggi termahsyur di Indonesia. Teman-teman berpikir kampus kita bebas tawuran? Sayang sekali tidak. Hingga kini hawa panas perpecahan antar mahasiswa UGM masih terpelihara rapi. Sudah rahasia umum, dua jurusan yang kerap saling hantam adalah mahasiswa-mahasiswa jurusan Konservasi Hutan Fakultras Kehutanan dengan mahasiswa jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik. Ironisnya, tawuran terjadi di dalam lingkungan kampus, Lembah UGM. Salah seorang mahasiswa Fakultas Kehutanan berinisial H bahkan mengatakan, tawuran antar mahasiswa Fakultas Kehutanan dan Fakultas Teknik telah dimulai sejak Orde Baru. Sebab musababnya bahkan tak jelas. Dimulai dari masalah sepele, sentimen antar Fakultas. Akar ini lalu tertanam kuat mendarah daging di generasi-generasi selanjutnya. Bahkan di tahun ini, pertandingan futsal menjadi ajang saling serang kedua Fakultas. tawuran tak jarang seperti perang modern. Sebilah pedang ditenteng-tenteng dan dijadikan senjata untuk saling menghajar.

Lagi-lagi ironis. Coba simak pernyataan G, mahasiswa Fakultas Teknik. “Memang benar permusuhan kami dengan mereka (Fakultas Kehutanan) seperti diwariskan. Sejak Ospek, kami sudah seperti didoktrin untuk melawan mereka,” Paling tidak demikian mahasiswa Jurusan Teknik Sipil ini berkisah pada kru Sintesa. Aneh bin ajaib!

Vandalisme kelas berat telah melekat pada identitas pemuda terdidik macam pelajar dan mahasiswa. Vandalisme kini bukan lagi wadah menyalurkan tuntutan akan keadilan terhadap tiran. Vandalisme kini dijadikan dewa penunuk jalan. Entahlah, mungkin memang demokrasi adalah buah simalakama. Di satu sisi membuka nafas kebebasan, di sisi lain dapat diartikan bebas sebebas-bebasnya. Lama kelamaan demokratisasi jiwa pemuda jenis kedua mendorong kita pada tirani gaya baru: kekerasan berkedok kebebasan.

Yah, generasi-reformasi harusnya menjadikan cara pikir vandalis sebagai barang kuno dan beralih ke sikap solutif kepala dingin. Daripada berada di tengah gerombolan yang menjadikan kekerasan sebagai jalan keluar, lebih baik kita benar-benar ‘berjalan keluar’ dari lingkaran lalu berteriak, “Hei, Bung! Tawuran itu sudah kampungan!” (Christian, Doni)

Advertisements
17
Dec
09

Sebuah Euforia “Batik Days”

Beberapa bulan lalu, sudah jamak ditemukan orang-orang memakai batik bukan hanya pada acara formal, namun juga di kesehariannya. Di kampus, batik bahkan sudah menjadi trend mode yang baru. Saat itu memang bertepatan dengan Hari Batik Nasional yang pertama. Orang tak canggung mengenakan batik, malah terkesan bangga karena dapat menjadi bagian dalam upaya melestarikan batik sebagai pakaian nasional. Continue reading ‘Sebuah Euforia “Batik Days”’




Rubrik

Kalender

September 2017
M T W T F S S
« Jun    
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  

Kunjungan Anda

  • 10,761 klik

Temui kami di:

Gedung Yong Ma lantai 2, Jalan Socio-Justicia 1, Bulaksumur, Yogyakarta. Email: sintesapress@yahoo.com Facebook/ Group: Persma Sintesa/ Sintesa Press